Wanita di Kursi Tunggu
Pada wanita di kursi tunggu
Yang tabah dalam mahabbah rindu
Ia tak meredup, lamat-lamat membisu
Sedang Senggigi tak lagi tersapu ragu
Haru tak lagi malu-malu, kau tahu?
Pun malam menawarkan dingin melumat
Bersama malam, bersama kelam
Yang menyeka gerimis air mata
Tidaklah resah namun tabah
Mengintip rapat-rapat
Menggenggam erat-erat
TakdirMu menenangkan
SkenarioMu mengharukan
Batam, 4 Mei 2015
11:59 Wib
Oleh:
Devina Prahasanti Putri
Sunday, May 20, 2018
Friday, May 18, 2018
Thursday, May 17, 2018
Wednesday, May 16, 2018
Tulisan
Pertama-tama,
Selamat Pagi, Tuan.
Aku ingin mengucapkan itu untukmu,
Karena mungkin ini adalah kali terakhir aku berani menyapamu. Mungkin ini adalah kali terakhir aku untuk bercerita kepadamu, Untuk menyampaikan kata hatiku, Yang berlawanan dengan isi pikiranku.
Karena mungkin ini adalah kali terakhir aku berani menyapamu. Mungkin ini adalah kali terakhir aku untuk bercerita kepadamu, Untuk menyampaikan kata hatiku, Yang berlawanan dengan isi pikiranku.
Tahukah kau,
Bahwa pelangi membutuhkan hujan untuk menampakkan indahnya, Bahwa pelangi bergantung pada tetesan airnya, Bahwa pelangi menghasilkan warnanya dengan bantuan cahaya, Bahwa pelangi bisa ada dengan pembiasan cahaya, Setelah hujan tepatnya.
Bahwa pelangi membutuhkan hujan untuk menampakkan indahnya, Bahwa pelangi bergantung pada tetesan airnya, Bahwa pelangi menghasilkan warnanya dengan bantuan cahaya, Bahwa pelangi bisa ada dengan pembiasan cahaya, Setelah hujan tepatnya.
Tetapi tunggu dulu, Tuan.
Pelangi itu berbohong. Terkadang ia muncul setelah selesainya hujan, Terkadang ia bersembunyi bersama omong kosong.
Pelangi itu berbohong. Terkadang ia muncul setelah selesainya hujan, Terkadang ia bersembunyi bersama omong kosong.
Seperti Tuan,
Yang muncul pada hariku dengan cahaya ,Yang membawa semua cerita dan ceria, Yang mewarna tiap canda dan tawa, Yang membangun kata kita,
Yang muncul pada hariku dengan cahaya ,Yang membawa semua cerita dan ceria, Yang mewarna tiap canda dan tawa, Yang membangun kata kita,
Lantas,
Mengapa otak berbisik lain, Tuan? Apa karena tuan berbohong seperti pelangi? Atau hujan yang tak dapat membantu menutupi? Apa pelangi sudah bisa muncul tanpa hujan? Mungkin hujan sudah tiada arti, Atau pelangi sudah selesai disini.
Mengapa otak berbisik lain, Tuan? Apa karena tuan berbohong seperti pelangi? Atau hujan yang tak dapat membantu menutupi? Apa pelangi sudah bisa muncul tanpa hujan? Mungkin hujan sudah tiada arti, Atau pelangi sudah selesai disini.
Seperti pelangi yang menyuara keindahannya, Tuan,
Mengatakan benar alasannya.
Dan seperti hujan yang membuat pelangi berbohong, mungkin aku adalah sebabnya.
Mengatakan benar alasannya.
Dan seperti hujan yang membuat pelangi berbohong, mungkin aku adalah sebabnya.
-- Snipperz
Aku, yang sudah membaca salam Tuan tadi malam.
Sebuah salam perpisahan.
Sebab Aku adalah Hujan yang tergantikan,
Karena kenyataan yang ditutupi Pelangi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Preview
Seorang Kakek Buta Berjalan Menyusuri Gurun, Mengikuti Tali Untuk Pergi Ke Mesjid. Dan Beliau Melakukannya Setiap Hari.
Pecandu Hitam
-
Mossy. Si belang. Si betina :) Manja, suka ngelendot kemana-mana Kalo kelelahan, paling anteng tidur di sofa Teman penghilang stres...
-
Tak cukup kerja keras Tapi juga bekerja ikhlas Bersama srikandi-srikandi Teknik Informatika Indeed.. The great friends are ...
-
Oleh: Salim A. Fillah Dalam Motivasi, Nasihat, Rajutan Makna 11/08/2018 Sebab Allah Maha Tahu, do’a bukanlah cara memberitahuNya akan ap...